Showing posts with label Kearifan Pertanian Lokal. Show all posts
Showing posts with label Kearifan Pertanian Lokal. Show all posts

Tuesday, October 14, 2014

Masih Perlukah Kearifan Lokal di Masa Sekarang ?




ya... pertanyaan yang sangat tepat bagi masa pertanian zaman sekarang... apakah kita harus mempertahankannya ataukah kita melepasnya dan mengikuti era perkembangan zaman dengan mengandalkan teknologi ? Lalu apa yang harus dilakukan oleh kita sebagai negara yang meluhurkan nilai budaya dan adat ? Tentunya kita jangan melepaskan kearifan lokal karena kearifan lokal selalu membawa hasil yang positif seperti yang dilakukan oleh masyarakat maluku yakni tata kelola hutan adat dikenal dengan Sasi.

Sasi merupakan larangan untuk mengambil hasil hutan dalam jangka waktu tertentu. Ini dimaksudkan agar sumber daya hutan yang ada dapat dipergunakan tepat pada waktunya serta tetap tersedia untuk semua orang. Waktu sasi biasanya 3 - 6 bulan bahkan bisa sampai 1 tahun. Setelah waktu itu selesai, masyarakat bisa mengambil hasil hutan namun dalam batasan yang wajar, seperlunya dan sesuai dengan aturan adat, proses ini dinamakan buka sasi. Aturan inipun mempunyai sanksi dan denda jika dilanggar. Di Maluku tengah, sanksi yang dikenakan biasanya diberi denda adat berupa membayar kembali sesuai dengan yang telah ditentukan dalam aturan adat sedangkan di Maluku tenggara, denda adat bisanya berupa ganti rugi dengan emas . Selain itupun mereka percaya bahwa jika sengaja melanggar sasi akan mendapat musibah. Karena itulah masyarakat benar-benar tahu akan pentingnya menjaga hutan.

Contoh diatas merupakan contoh kecil dari manfaat menjaga kearifan lokal. Sebetulnya masih banyak lagi hal-hal baik yang terlahir dengan menjaga nilai kearifan lokal. Oleh karena itu mari kita lestarikan kebudayaan kita dan menjaga kearifan lokal :D


sumber: 
http://green.kompasiana.com/penghijauan/2013/03/30/kearifan-lokal-masyarakat-adat-dalam-menjaga-hutan-menjamin-kelestarian-hutan-indonesia-546930.html

Pertanian berbasis kearifan lokal

Apa sih sebetulnya pertanian sebagai kearifan lokal ? tradisi kah ? kebiasaan ? makanan ?
Sebelum kita kupas apa itu pertanian berbasis kearifan lokal mari kita ketahui dulu apa itu yang dimaksud kearifan lokal ?

Kearifan lokal, terdiri dari dua kata yaitu kearifan (wisdom) atau kebijaksanaan dan lokal (local) atau setempat. Jadi kearifan lokal adalah gagasan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.

Menurut Gobyah nilai terpentingnya adalah kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Secara konseptual, kearifan lokal dan keunggulan lokal merupakan kebijaksanaan manusia yang bersandar pada filosofi nilai-nilai, etika, cara-cara dan perilaku yang melembaga secara tradisional. Dan masih banyak lagi definisi kearifan lokal menurut para ahli namun definisi kearifan lokal secara bebas dapat diartikan nilai-nilai budaya yang baik yang ada di dalam suatu masyarakat. Hal ini berarti, untuk mengetahui suatu kearifan lokal di suatu wilayah maka kita harus bisa memahami nilai-nilai budaya yang baik yang ada di dalam wilayah tersebut. Nah lantas apa yang dimaksud pertanian berbasis kearifan lokal ? 

Jadi pertanian berbasis kearifan lokal adalah sebuah praktik budaya pertanian (Agriculture) yang dilakukan sudah turun temurun dan sudah menjadi budaya dan bisa dikatakan adat oleh para petani.
Berikut ini adalah contoh kearifan lokal yang dilakukan oleh para petani di berbagai daerah seperti 
Penggunaan Ruang dalam Masyarakat Baduy
Penggunaan ruang dalam masyarakat Baduy secara umum dibagi kedalam tiga zona, yaitu: Zona Bawah sebagai pemukiman, Zona Tengah digunakan untuk bercocok tanam dan Zona Atas digunakan sebagai hutan belantara dan tempat pemujaan (Syarif Muis, 2010)
Sistem Perladangan Masyarakat Baduy
Menurut orang baduy atau orang Kanekes, sistem berladang mereka adalah dengan tidak melakukan perubahan besar-besaran terhadap alam, tetapi mengikuti alam yang ada. Sistem pengairan tidak menggunakan irigasi tetapi mengandalkan air hujan, karena dalam kepercayaan mereka ada larangan penggunaan air sungai untuk keperluan penanaman tanaman diladang. (Syarif Muis, 2010)
Pelestarian hutan mangrove
Hutan mangrove yang tumbuh dipinggiran pantai (laut) sangat bermanfaat untuk terus dikembangkan dan dilestarikan karena tanaman ini dapat menyimpan carbon dan juga dapat menahan ketinggian air laut.

sumber:
http://www.deptan.go.id/dpi/detailadaptasi3.php